Friday, June 17, 2011

Skips Beat

There comes moment when you want to share your joy but you have no idea where and how to start. It's not because you miss some details; otherwise, you're overwhelmed by details.

You know, it goes the same way for you, outer space. All I know is that I am happy..... no err what is the name...(gosh I can't even find better diction in English to describe my weird cheerful gesture, silly smiles, and unexplained sudden red face each time people mention your name or us).

In this point, what else should I ask for?

Oh, dear God, thank You, for being unpredictably wonderful.



Thursday, June 2, 2011

Satu Tahun Ini

Saya tidak pernah menyangka bahwa tempo satu tahun sanggup membawa terlalu banyak kisah dalam milestone hidup saya. Saya juga tidak pernah mengira kalau kenyataan bisa lebih indah dari ekspektasi... hingga berkali-kali lipat. Yang saya tahu, dulu saya cuma bermimpi.

Mimpi saya tidak istimewa. Meski saya banyak mau, saya mulai bisa menyederhanakan inti dari segala cita-cita saya. Dan itu sederhana, mimpi yang sungguh bisa dikonstruksikan oleh otak manusia. Kemudian, langkah-langkah itu mulai nampak jelas, tidak lagi blur. Mimpi besar itu kian mungkin diraih. 

Saya dapatkan mimpi masa kecil saya, Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sepanjang 18 tahun hidup, menjadi bagian dari masyarakat ini adalah pencapaian terbesar saya. Saya bangga, bahagia tentunya. Usaha saya tidak sia-sia. Kebahagiaan holistik adalah ketika menghidupi mimpi, mewujudkannya jadi realita. Secara definisi tadi, saya sudah mencapai itu.

Saya rasa tahun pertama saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sedikit banyak memberikan saya gambaran seperti apa dunia ke depannya. Lucu ya, dulu saya begitu naif. Saya dulu lihat dunia ini seperti kurva dua dimensi. Sempit sekali pandangan saya. Untungnya saya cukup adaptif. Jadi dunia perkuliahan terasa indah buat saya, dinamis dan menantang.

Dibalik keelokannya, hidup sekarang lebih keras. Saya sadari jadi mahasiswa bukan sekadar mendapatkan nilai di atas kertas. Saya sadari bahwa lulus dari sini saya bawa beban berat. Yang jelas, saya mesti berbobot. Itu tidak hanya menuntut saya untuk rela merongrong jadwal tidur. Tapi juga mau hati diobrak-abrik, otak dikontaminasi, dan jiwa dirusak. Saya tidak berlebihan. Sekarang benar kalau nasihat dulu berkata hidup itu harus tangguh.

Kalau saya rangkum, satu tahun ini rasanya hanya satu.... luar biasa. Malu sebenarnya ketika masih sering mengeluh, masih sering tidak bersyukur, masih sering tidak ikhlas mengerjakan tugas atau belajar. Malu sama diri sendiri ketika bilang ini mimpi saya. Saya dapatkan lebih. Saya dapat pengalaman tak terukur oleh materi, teman-teman yang tak terlupakan, dan masa depan yang sekarang rasanya lebih manis.

Meski beberapa saat ini saya agak limbung karena banyak cobaan, saya harus kembali, on track. Sederhananya agar nanti ketika ada yang bertanya kemana saja saya selama ini, saya bisa jawab kalau saya sedang.... menghidupi mimpi.

:)


Monday, May 16, 2011

Saya Takut Nyatanya

Seorang asisten dosen yang cantik, pintar, baik hati, suatu hari pernah berkata bahwa ekspektasi membuat kita berperilaku seperti apa yang kita pikir, hingga akhirnya ekspektasi itu jadi realita. Dia jelaskan dengan kurva, angka, dan fakta. Lucunya, tulisan-tulisan di papan tulis itu, yang kemungkinan keluar di lembar soal UAS, tidak semenarik itu buat saya. Kata-katanya lebih menggelitik, membuat saya sejenak menarik mundur diri untuk berpikir.
Saya tahu kalau mau dihubungkan dengan motivasi,  hubungan kata-kata kakak cantik itu adalah dengan positive thinking, self support, dll. Sejenak berdiam. Saya tahu. Yang menarik justru ketika saya sadar saya kadang tak bisa paksakan ekspektasi, tidak mampu mengukur seberapa pantas saya untuk sebuah ekspektasi atau seberapa jauh sebenarnya saya dapat bertindak agar menjadi pantas untuk sebuah ekspektasi.  Lawak ya. Tapi sungguh nyata buat saya. 
Belakangan hidup saya sangat dekat dengan harapan. Tapi saya tau kadang harapan itu kosong. Atau setidak-tidaknya begitu volatile, hingga menguap sesaat setelah terisi dan saya sedang berusaha raih. Hasilnya? Luka hati.

Ha, tapi tak apalah. Kata orang, inilah hidup.

Jakarta, 16 Mei 2011


Saturday, May 14, 2011

Gotta Know

Sincere greetings spread warmth to stubborn heart. With no hestitation, I said that it's all good on me. Heeh, it went wrong. Wrong. Then thank you, for waking me up from long, ironic dream. For showing me that I am... I am not that well.
Hey, dreaming of tomorrow only brings uncertainty. Though, it's not serendipity either. But I promise thee; this sketched picture of us will be hung on the star-sprayed corner. 
Thank you, for the light bulb.

Tumblr_livhvbzh8e1qhujmoo1_500_large
http://data.whicdn.com/images/8363282/tumblr_livhvbzH8E1qhujmoo1_500_large.jpg?1301507631

Sunday, April 17, 2011

Exception

It's very common to feel some sparks inside when certain songs are played or out of nowhere some pictures slide on your screen.... or maybe when you visit historical places which bring you back to special events.
It's very human when your brain rolls, performs memories and then your heart takes a glimpse of feeling  that used to run inside your vein.
It's indescribable when your brain does so, in contrary, your heart rattles on nothing.
And you start asking this unsynchronized relationship between heart and mind which appears unusual. What is actually happening?
It's weird, weird. Weird.

Hey, A Beautiful Mess, why are you stop beating?

Sunday, April 10, 2011

JOURNALIST DAYS 2011


Jangan sampai ga ikut berpartisipasi. Ini acara cool bgt! <3 <3
Semua bermula dari obrolan ringan lebih dari setengah tahun lalu. Tak ada yang terlalu istimewa kecuali berkenalan dengan beberapa orang baru. Perbincangan kami tak berbobot. Tipikal omongan kosong, basa basi, sekedar usaha mengenal lebih dekat. Dan itu semua berujung, di suatu ide menerima satu tantangan baru. Sore itu berakhir, kami pun sepakat akan suatu hal sederhana. Yang tak pernah aku tahu, itu awal dari sesuatu.
Tantangan itu harus terwujud. Harus itu menuntut usaha. Kami tak segan. Kami berusaha keras.
Tapi, gagal. Langkah kami terhenti.
Menerima kenyataan pahit tidak pernah menjadi suatu perkara sepele, Kawan. Kau pertaruhkan hati dan seluruh harga dirimu saat realita merasuki otakmu untuk mengakui segala hal nyata adanya. Di situlah kau mulai kehilangan kontrol atas dirimu sendiri. Hingga egomu berontak dan menolak. Sungguh sekarang akan kuberitahu. Itu semua sia-sia.
Waktu seakan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengeluarkan manusia keluar dari rangkap kebodohan yang dia ciptakan sendiri. Terkadang itu tidak berarti kau lupa. Itu berarti kau mendapat jawaban atas setiap kekecewaanmu.
Aku pun demikiann. Satu per satu tanyaku usai terjawab. Setiap kejadian bak potongan cerita yang perlahan selesai dirangkai oleh Sang Esa. Hingga kini tak ada kemunafikan bersembunyi di balik tatapan mata. Tak ada lagi kecerian palsu. Usai. Ya, usai sudah.
Lalu aku tergelitik. Terkadang, manusia terlalu dangkal menyelami setiap makna yang tersirat dalam. Sering sekali manusia menjadi terlalu bodoh untuk memahami skenario cerdik. Lucunya, selalu kita lupa bahwa Tuhan itu... Penulis Agung.
 Sekarang kau tanya kabarku? Kuberi tahu, aku bersyukur, luar biasa.