Here I am. Living my own with some little imaginations on my mind.
Here I am. Planning several essential marks.
Here I am. Trying to give shots to what I please.
Here I am. Hoping to say here we are.
Wednesday, July 14, 2010
Saya bukannya tidak bersyukur masuk Universitas Indonesia. Tapi, saya ingin mengubah current address saya di facebook. Silly, memang. Namun, kenyataannya, aktivitas teman-teman saya yang berpindah kota atau negara tampak sangat menyenangkan dan menggiurkan buat saya.
Aduh, sekali lagi, saya bukannya tidak bersyukur masuk universitas impian yang setahun lalu ada di benak saya selama berbulan-bulan yang menjemukan dan kemudian karena letaknya yang terjangkau, saya tetap tinggal di rumah. Empat belas tahun (syukur saya tidak pernah tinggal kelas, ini maksudnya 12 tahun + TK 2 tahun) saya mengenyam pendidikan itu ya seperti ini, bersama keluarga, di tempat yang nyaman di mana segala sesuatu tersedia. Sekarang, ketika teman-teman saya sedang berkemas dan bersiap meninggalkan keluarga mereka untuk merantau, saya masih dengan nyaman tinggal di rumah.
Bukan berarti juga saya tidak nyaman berada di rumah. Tempat ini terlalu nyaman sampai saya jenuh. Saya tahu meninggalkan comfort zone itu berat, tapi saya sudah lama sekali tidak melakukannya. Saya tahu saya akan merindukan semua yang saya tinggalkan bila saya merantau, tapi itu yang ingin saya lakukan saat ini.
Jumat lalu, saya (mungkin untuk yang terakhir kali dalam tahun ini) bertemu teman-teman SMA yang sebagian besar dari mereka akan meninggalkan Jakarta untuk kemudian tinggal di Bandung, Medan, atau Jepang untuk mengenyam pendidikan. Mereka cerita bagaimana persiapannya, mencari kost, dll yang membuat saya...err...iri (there, i said it). Saya sendiri juga sibuk membayangkan betapa serunya kehidupan baru di kota mereka.
Ah, ya sudahlah. Saya ingin menikmati kuliah saya to the max. Haha semoga deh saya dapat kesempatan untuk mencicipi kemandirian di negeri orang sebelum tiup lilin ke-20. By my own effort! Amiiin :)
Monday, July 12, 2010
Four Years Later
Goodbye World Cup 2010!
I hope I'll be witnessing the euphoria of World Cup 2014 directly from Brazil in this time four years from now! Amiiiin.
Source : goligog.wordpress.com/2010/05/30...artinya/ and http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4645222
Sunday, July 11, 2010
#1 Wish
Why do birds suddenly appearEvery time you are near?Just like me, they long to beClose to you
Carpenters - Close to You
Thursday, July 8, 2010
Bengawan Solo
I'd never heard "Bengawan Solo" before but I once had an eagerness to listen to this song when its composer, Gesang Martohartono, passed away couple weeks ago. Then, I searched the song, listened to it, and was not interested hehe. I guess it was because of the genre which wasn't familiar.
But then I found the Lisa Ono's version. And it sounds really really nice. Moreover, the lyrics is in Indonesian, not the English translation. Click here to listen.
Bengawan Solo is widely renowned. Its original genre is keroncong. The cool fact is the song has been rearranged into other genres by various artists throughout the world. And it's claimed as the best known of all Indonesia songs. Great!
Bengawan Solo Riwayatmu ini Sedari dulu jadi... Perhatian insani Musim kemarau Tak seberapa airmu Dimusim hujan air.. Meluap sampai jauh Mata airmu dari Solo Terkurung gunung seribu Air meluap sampai jauh Dan akhirnya ke laut Itu perahu Riwayatnya dulu Kaum pedagang selalu... Naik itu perahu |
|---|
Tuesday, July 6, 2010
Under Pressure
Nobody says it was easy to live under pressure. Tapi, manusia tidak selamanya hidup enak dan berada di atas awan ya ga?
Jadi, sebenarnya gue menulis ini karena ada api yang memicu (tidak, api ini tidak ada hubungannya dengan main hati wehehe). Gue adalah murid les mengemudi untuk sebulan ini dan beneran ya ternyata nyetir itu ga gampaaaang. Dua belas jam belajar nyetir adalah dua belas jam termelelahkan sepanjang tahun ini. Apalagi dua jam terakhir yang digunakan untuk belajar mundur dan parkir bersama guru yang (agak) galak.
Oke, gue tidak mau bercerita tentang les nyetirnya, kawan. Gue ingin share tentang sinkronisasi otak, hati, dan tubuh pada masa-masa suram, maksudnya saat under pressure gitu. Sudah lama tidak melatih kemampuan ini sejak masa-masa kaderisasi SMA dan les mengemudi benar-benar mengingatkan gue betapa pentingnya life skill ini.
Now I praise "kader". Masa-masa ini aah tak mungkin dilupakan hahha. Di sinilah pertama kali gue belajar menyeimbangkan otak, hati, dan tindakan saat terpojok dan "gelap". Kadang-kadang tindakan yang terjadi saat-saat "gelap" kayak gitu keluar spontan dari anggota tubuh sebelum sempat disaring sama otak dan/atau hati.
Gue coba ilustrasikan :
Guru (bayangkan guru terkiller dengan intonasi tinggi dan mata hendak membunuh) : Jadi ya kamu sering bgt telat. Rumah di depan gerbang belakang sekolah. Apa susahnya sih bangun 5 menit lebih pagi aja pasti kamu ga terlambat lagi. Saya aja rumahnya jauh ga pernah terlambat kayak kamu.
Murid (otak blank, semua terasa suram, shout unconsciously) : Aduh, Pak(atau Ibu tergantung imajinasi lo tadi), ini saya sampe bela-belain ga pake deodoran dan belom sikat gigi. Untung aja masih sempet pake underware warna biru kesayangan saya yang matching sama tas yang saya pake. Ini demi saya ngejar pelajaran Bapak (atau Ibu), loch. Lagian saya cuma terlambat 7 menit, biasanya 15 meniiiit tauk.
Then you can imagine an awkward moment and what happens afterwards.
Ketika lo mampu berpikir jernih, proses tindakan lo adalah otak atau hati dulu, tanya hati bentar atau mikir logisnya dulu, baru bertindak kan? Saat suram biasanya jalur ini digunting seenaknya atau malah ya ga melalui proses itu karena lo membiarkan anggota tubuh lo bertidak seenak jidat. See? Okay, mungkin tidak seekstrim itu dengan jadi membuka rahasia lo untuk jadi konsumsi publik dan bahan ketawaan sampe setahun ke depan, kemungkinan besar malah si murid itu bakal diem aja. Tapi diam tidak selamanya emas kan. The solution might be as simple as apologizing.
Gue punya banyaaaaaak sekali pengalaman dan tau banyak kisah tentang hal ini. Kebanyakan berefek negatif pada akhirnya. Pernah denger orang kalap dan langsung mendorong pisau ke dada orang yang menghina dia kan? Nah, segitu efeknya ketika orang tidak mampu mengontrol diri berada di bawah tekanan.
Thus, I consider this as an essential life skill. To think and act rationally in such irrational or difficult situation is a serious business and worth to be learned, huh?
Subscribe to:
Posts (Atom)



