Wednesday, June 4, 2014

Alasan

Manusia butuh alasan. Yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Untuk mengerjakan hal yang lebih penting (bukan) bagi dirinya sendiri.

Tuesday, April 29, 2014

Satu Lagi

Dua dari 365 hari hampir lewat di usia baru ini. Cepat sekali. Rasanya baru saja membalas semua ucapan selamat, berterima kasih untuk doa-doa, dan tertawa di kejutan ulang tahun; kini hari baru bahkan sudah mau usai. Mungkin waktu memang berakselerasi di dekade baru. Dekade kepala dua rasanya akan cepat berlalu, meski banyak hal penting (seharusnya) terjadi. 

Pergantian hari adalah sesuatu yang amat biasa, tidak istimewa. Sebenarnya yang lazim disebut ultah tahun adalah ketika hari berganti dan putaran berulang lagi sehingga ditambahkan satu angka pada tahun - sekadar untuk mempermudah pengukuran usia. Angka satu tahun memang signifikan karena sesungguhnya semua orang kehilangan masa setiap saat. Jadi, kadang saya berharap ada transformasi besar-besaran di hari jadi.

Nyatanya, tidak. Saya masih manusia yang sama. Pola hari kemarin, hari ini, dan hari-hari lain pun mungkin akan sama.  Meskipun demikian, saya tahu akan ada hal-hal berbeda terjadi. Satu hari saya akan di satu tempat, di waktu lain saya merasakan sesuatu, dan di kesempatan lain saya akan bertemu orang-orang baru. Inilah mungkin yang membuat setiap waktu begitu istimewa. Perjalanan ini seperti terdiri dari rentetan kejadian yang berbeda, namun dengan pola yang mirip.

Bagian-bagian kecil yang disebut perasaan, kejadian, dan lain sebagainya, sungguh patut dirayakan. Mungkin bila tidak melihat ke belakang, bagian-bagian kecil itu jadi tidak bermakna. Dua puluh satu tahun sudah perjalanan saya. Dan saya belajar bersyukur atas bagian-bagian kecil yang membentuk keseluruhan besar perjalanan ini. Yang paling membuat saya bersyukur, saya tidak menikmatinya sendirian. Ada orang-orang lain yang ambil andil dalam perjalanan saya, bahkan beberapa di antara mereka adalah alasan saya jadi orang yang sangat bahagia kemarin.

Saya sempat berpikir apakah saya layak atas kasih sayang dan perhatian dari orang-orang tersebut. Rasanya saya belum pernah berbuat sebaik yang mereka lakukan. Tapi kalau dunia selalu ditimbang berdasarkan "kebaikan yang diterima berbanding lurus kebaikan yang diberi", sepertinya keseimbangan itu akan jadi satu-satunya keseimbangan yang tidak ideal, yang sia-sia. Tidak ada keistimewaan dan perayaan sukacita dari kelurusan itu. Karena itu, terima kasih, terima kasih buat setiap mereka yang membuat hari saya kemarin begitu istimewa. Tapi terlepas kemarin, terima kasih buat pengalaman yang saya nikmati dari mengenal Anda sekalian - dan Anda-Anda lain yang sayangnya melewatkan perayaan bahagia saya kemarin.

Terlebih bila saya ingat semua pengalaman dan kejadian yang terjadi, terutama di usia 20 kemarin. Tahun lalu adalah tamparan yang membukakan mata saya tentang siapa saya dan yang saya pikir adalah saya. Saya amat jauh dari kata pantas. Namun, (buat saya), saya masih diizinkan menerima bagian yang begitu luar biasa. Banyak hal penting terjadi tahun lalu yang membuat saya menyadari bahwa ada yang mengatur segalanya. Terima kasih, terima kasih yang begitu besar teruntuk kepada Sang Pengatur. 

Akhirnya, setelah hiruk pikuk selesai, realita kembali mengetuk. Tiga ratus sekian hari lagi sebelum putaran tahun mulai lagi dari nol. Semua masa punya misterinya masing-masing. Jiwa muda saya serasa ingin menantang apapun, mencicipi segala perasaan, dan mencoba semua yang diinginkan. Tapi, dalam hati, saya amat gentar membayangkan segala kemungkinan yang bisa ditawarkan hidup.

Mungkin satu-satunya kontrol yang bisa saya lakukan adalah penyerahan diri. Bahwa pada akhirnya, ada Satu yang paling menyayangi saya di atas segalanya. Yang mengizinkan semuanya terjadi dan yang melindungi saya hingga garis akhir. Putaran ini dan seterusnya saya percayakan pada Sang Pelindung. 

Terima kasih untuk satu tahun lagi karya-Mu yang ajaib, The Divinity.

Tuesday, April 8, 2014

Saturday, April 5, 2014

Lucu

Hidup itu suka melucu, ya. Kalau merasa cocok, malah menghilang. 
Sedangkan yang begitu ingin, dirasa tidak pas. 
Ah, mungkin memang masih waktunya bermain-main... 
dengan waktu, yang tidak pernah kalah.


Tuesday, January 21, 2014

Waktu

Apakah kita berhak marah pada waktu, yang terlalu cepat merenggut tawa dan terlalu lama mengurung rana?
Apakah kita berhak kecewa pada waktu, yang terlalu sering membuang kesempatan dan menahan kita dalam bosan?
Siapakah kita? Tuan? Sungguhkah waktu tunduk pada tuan?

Saturday, December 7, 2013

Sovereign

I have learned a bit that it is hard to control variables in social sciences' research. To daily life, this is so applicable. To limit our current consciousness -and feelings- only to present circumstances is immensely difficult. To be affected by previous happenings and future hope is indeed very human.

But sometimes, we need to put ourselves only at the present time. There are often too much distractions we need to avoid in order to keep ourselves on the ground. We need to gain control over ourselves.

This is just a never-ending battle between what we should be and what we are. All I know is that it has always been easier to stay on our default settings, the what-we-are.

However, only when we win this battle would we declare ourselves sovereign.

Monday, August 5, 2013

I Heard

"But maybe, that is who you truly are; you love your silence and you find tranquility on your own. Aren't we too attached to the standards and our minds bombarded with others' definitions? You should be thankful for having had that journey. You still are in fear, but of different matters. Changing mind is not always bad--as well as changing attitude. Although being alone is not always good, you know now that it's better than a false company. So, drop your hatred out and release yourself. You'll see that everyone is blessed with different beauty," she said.