Saturday, February 20, 2016
It ends when you leave this battlefield. But that also means another warfare for others who would want to win your parts in this chaotic, unfair world.
Thursday, August 13, 2015
Kamu dan Aku, Kekal
Dan jiwaku akan terus menyimpan kamu dan aku dan kekekalan itu. Membisukan jarak yang kita ratapi. Membungkam waktu yang berkuasa atas kita. Yang ada hanya kamu dan aku dan kekekalan itu.
Walau kefanaanku menghapus rekam-rekam yang dirangkai dalam raga, jiwaku tetap bersorak. Karena kenyatannya kamu dan aku kekal. Di tempat itu, di waktu itu. Selamanya...
Wednesday, December 10, 2014
About Time
Banyak yang belum kita ketahui - yang tersisa menjadi pertanyaan. Katanya, takdir sering menitipkannya pada waktu.
Wednesday, November 12, 2014
GA 246 & TAXI AFG 001
Ruang dan waktu dan segala yang di dalamnya, pencatut keterbatasan manusia. Alangkah kurangnya kita. Takluk pada dimensi dan kala.
Tapi sepertinya, keterbatasan justru mendefinisikan. Bukankah dengannya, makna jadi nisbi?
Seperti ketika melayang di angkasa, makin banyak yang dapat terlihat tapi raga tidak mampu menjangkau. Ingat, ada ruang.
Seperti ketika kita berpikir bahwa segala sesuatu kekal (apa itu kekal?). Ingat, ada waktu.
Sukar diakui, tapi kita suka bertarung melawan kodrat - seakan semua sejauh rengkuhan. Kalau direnungkan, mengapa harus berletih melawan? Bukankah hidup di batasan-batasan itu menyenangkan?
Bukankah itulah hidup? Batasan?
Wednesday, June 4, 2014
Alasan
Untuk mengerjakan hal yang lebih penting (bukan) bagi dirinya sendiri.
Tuesday, April 29, 2014
Satu Lagi
Pergantian hari adalah sesuatu yang amat biasa, tidak istimewa. Sebenarnya yang lazim disebut ultah tahun adalah ketika hari berganti dan putaran berulang lagi sehingga ditambahkan satu angka pada tahun - sekadar untuk mempermudah pengukuran usia. Angka satu tahun memang signifikan karena sesungguhnya semua orang kehilangan masa setiap saat. Jadi, kadang saya berharap ada transformasi besar-besaran di hari jadi.
Nyatanya, tidak. Saya masih manusia yang sama. Pola hari kemarin, hari ini, dan hari-hari lain pun mungkin akan sama. Meskipun demikian, saya tahu akan ada hal-hal berbeda terjadi. Satu hari saya akan di satu tempat, di waktu lain saya merasakan sesuatu, dan di kesempatan lain saya akan bertemu orang-orang baru. Inilah mungkin yang membuat setiap waktu begitu istimewa. Perjalanan ini seperti terdiri dari rentetan kejadian yang berbeda, namun dengan pola yang mirip.
Bagian-bagian kecil yang disebut perasaan, kejadian, dan lain sebagainya, sungguh patut dirayakan. Mungkin bila tidak melihat ke belakang, bagian-bagian kecil itu jadi tidak bermakna. Dua puluh satu tahun sudah perjalanan saya. Dan saya belajar bersyukur atas bagian-bagian kecil yang membentuk keseluruhan besar perjalanan ini. Yang paling membuat saya bersyukur, saya tidak menikmatinya sendirian. Ada orang-orang lain yang ambil andil dalam perjalanan saya, bahkan beberapa di antara mereka adalah alasan saya jadi orang yang sangat bahagia kemarin.
Saya sempat berpikir apakah saya layak atas kasih sayang dan perhatian dari orang-orang tersebut. Rasanya saya belum pernah berbuat sebaik yang mereka lakukan. Tapi kalau dunia selalu ditimbang berdasarkan "kebaikan yang diterima berbanding lurus kebaikan yang diberi", sepertinya keseimbangan itu akan jadi satu-satunya keseimbangan yang tidak ideal, yang sia-sia. Tidak ada keistimewaan dan perayaan sukacita dari kelurusan itu. Karena itu, terima kasih, terima kasih buat setiap mereka yang membuat hari saya kemarin begitu istimewa. Tapi terlepas kemarin, terima kasih buat pengalaman yang saya nikmati dari mengenal Anda sekalian - dan Anda-Anda lain yang sayangnya melewatkan perayaan bahagia saya kemarin.
Terlebih bila saya ingat semua pengalaman dan kejadian yang terjadi, terutama di usia 20 kemarin. Tahun lalu adalah tamparan yang membukakan mata saya tentang siapa saya dan yang saya pikir adalah saya. Saya amat jauh dari kata pantas. Namun, (buat saya), saya masih diizinkan menerima bagian yang begitu luar biasa. Banyak hal penting terjadi tahun lalu yang membuat saya menyadari bahwa ada yang mengatur segalanya. Terima kasih, terima kasih yang begitu besar teruntuk kepada Sang Pengatur.
Akhirnya, setelah hiruk pikuk selesai, realita kembali mengetuk. Tiga ratus sekian hari lagi sebelum putaran tahun mulai lagi dari nol. Semua masa punya misterinya masing-masing. Jiwa muda saya serasa ingin menantang apapun, mencicipi segala perasaan, dan mencoba semua yang diinginkan. Tapi, dalam hati, saya amat gentar membayangkan segala kemungkinan yang bisa ditawarkan hidup.
Mungkin satu-satunya kontrol yang bisa saya lakukan adalah penyerahan diri. Bahwa pada akhirnya, ada Satu yang paling menyayangi saya di atas segalanya. Yang mengizinkan semuanya terjadi dan yang melindungi saya hingga garis akhir. Putaran ini dan seterusnya saya percayakan pada Sang Pelindung.